DIAM
Tak terasa waktu yang bergulir,
Seperti menjelma sesosok manusia yang mencoba
berlari kencang…
Lalu dalam heningku berpikir,
Kemanakah langkah gontai ini akan melangkah
lagi?
Di sekitar pun terasa senyap menusuk kulit ku…
Ku cium wangi malam yang
dingin, dan berharap akan ada sedikit sinar dari Rembualan yang akan menemani…
Tuhan, tak mampu kaki ini melangkah lagi…
Berat ku pikul semua beban demi beban yang kau
beri…
Mungkinkah langkah kaki yang mungil ini
sanggup menaiki puncak takdir,
Untuk meraih kemenangan yang utuh?
Hanya mampu terdiam dan menahan napas yang
sesak…
Kening yang semakin mengerut, menahan tetesan
air mata…
Pertanda bahwa ku merasa sangat tak sanggup…
Dengar Tuhan…
Engkau berikan rasa sakit karna beratnya
kehidupan,
Itu tak kan pernah mengubah raut wajahku,
Aku akan tertawa dan bilang pada Mu…
Aku tak selemah yang kau bayangkan…
Biar saja hari ku menuju titik puncak terasa
lamban dan penuh rasa sakit,
Tapi jangan pernah Engkau ambil satu-satunya
yang menjadi modal ku…
Aku mencintainya…
Seperti tak ada lagi kehidupan yang akan
menemani hariku…
Derap langkah semakin lesu, lemah dan seperti
tak bertuan lagi…
Melupakan sejenak kepedihan dalam Diam,
Diam dan tanpa kata, Diam tanpa rasa, Diam
yang penuh makna…
Membuat darah yang menggebu akibat luka
sayatan kehidupan,
Seperti kembali pada penyembuhan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar